“Cap = Image = …” – Renungan Singkat ttg Menghakimi
Aku pikir, tulisan renungan di bawah (from liturgical reading of the Latins) sangat bagus sekali untuk mengingatkan kita semua. With emphasis added from me.
Kalau ada yg ingin subscribe renungan Bahasa Kasih, akan bisa online soon. It will go-online.. =)
Contoh2 men-cap orang misalnya adalah:
-”Dia mah pasti telat orangnya” (Padahal udah jarang telat, tp gara2 di cap begitu, tetep aja image-nya telat terus)
-”Dia mah masi anak2″ (Padahal udah makin dewasa, tp di cap jadi anak kecil terus, ga bertumbuh2)
-”Dia mah bgini bgini bgini” (Padahal kenyataannya adalah berbeda…)
-etc
Alw
——————————————–
Senin, 22 Juni 2009
Kej 12:1-9
Mzm 33:12-13,18-19,20,22
Mat 7:1-15
“Cap = image = …”
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. – Mat 7:1
Dalam lingkup pergaulan kita, biasanya kita mempunyai pandangan tertentu terhadap seseorang. Kalau bahasa gaulnya “cap” atau “image”. Selama image yang diberikan positif, wajar-wajar saja. Namun akan sangat berbeda jika cap yang diberikan bersifat negatif. Hal itu akan bisa sangat berpengaruh dan menghambat relasi yang terjalin.
Kecenderungan kita adalah selalu melihat orang yang bersangkutan dari perspektif kita. Sesuai dengan gambaran yang kita buat terhadap orang tersebut. Kalau sudah begini, bagaimana kita bisa bebas berelasi dengan orang itu? Bisa-bisa, apapun yang dilakukan oleh orang tersebut selalu menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan dalam diri kita, atau bahkan selalu dianggap salah.
Bacaan hari ini menegur sekaligus mengingatkan kita. Hati-hati. Bisa-bisa karena pengaruh image yang kita berikan pada seseorang membuat kita mudah menghakimi orang lain. Mungkin kita tidak melakukannya dengan sengaja. Tapi sekali lagi, yang namanya kecenderungan terkadang tanpa sadar kita lakukan. Mari kita belajar untuk tidak memberi “cap” tertentu pada orang lain, agar kita tidak jatuh dalam menghakimi orang lain. (Jc)
Apakah saya sering menghakimi orang lain karena image yang saya miliki terhadap orang itu?

Leave a Reply