Paraphrased Quotations from What the Pope Said
Peace and reconciliation is only possible with EdUcAtIoN, RESPECT, and the rejection of violence. (Pope BXVI)
Respect & Understanding come from Dialogue that Overcomes Fragmentation (Incomplete/broken information). Unfair assumptions are misleading.. (Pope BXVI)
To eliminate divisions, it is above all necessary to remove the walls that we build around our hearts, the barriers that we set up against our neighbors.No matter how intractable and deeply entrenched a conflict may appear to be, Benedict XVI concluded, There are always grounds to hope that it can be resolved, that the patient and persevering efforts of those who work for peace and reconciliation will bear fruit in the end.
That’s why Dialogue is needed to prevent unfair&misleading assumptions which can result in others get harmed through what we think & say…!
———————————-
Kedamaian dan rekonsiliasi hanyalah mungkin dengan pendidikan, menghargai/menghormati, penolakan akan kekerasan. (Pope BXVI)
Menghargai/menghormati dan pengertian datang dari dialok yang mengatasi fragmentasi (informasi yang tidak lengkap/rusak). Asumsi yang tidak adil akan salah mengarahkan… (Pope BXVI)
Itulah mengapa dialok diperlukan untuk mencegah asumsi yang tidak adil dan salah mengarahkan, yang dapat berakibat orang lain dirugikan melalui apa yang mereka pikir dan katakan.
———————————
Semua pasti tahu bahwa kekerasan tidak akan membawa perdamaian, tetapi malah membawa dendam, kekerasan lain, dan keresahan. Begitu juga dengan rekonsiliasi; kekerasan tidak akan membawa rekonsiliasi.
Ketika kita belum tahu benar dan hanya mendengar dari orang sekitar, kita akan membuat asumsi biasanya. Asumsi ini kemungkinan besar mengandung informasi yang tidak tepat, sehingga asumsi kita menjadi tidak tepat juga. Namun sayangnya, kita tidak sadar akan hal ini, sehingga asumsi tersebut kemudian menjadi dasar akan pikiran, perkataan, dan perbuatan kita terhadap orang lain, atau bahkan kelompok tertentu…
Kalau kita benar-benar menghargai/menghormati, maka tentunya hal tersebut tidak perlu terjadi, melainkan ada suatu cara yang sangat baik, demi menjalin hubungan dan mengerti keberadaan masing-masing.
Dialok adalah jawabannya. Dialok itu bukanlah debat; tidak ada yang menang dan kalah; tidak ada yang sakit hati maupun berusaha supaya satu pihak lebih hebat dari pihak satunya lagi; tidak ada hubungan yang menjadi rusak. Yang dicari adalah: Saling pengertian, membangun hubungan, kerja sama, toleransi, dll untuk kepentingan bersama.
Dengan adanya dialok inilah, kita akan menjadi tahu dan mengerti benar apa posisi seseorang maupun suatu kelompok akan hal tertentu. Informasi yang salah dan asumsi yang tidak adil menjadi sirna; kesamaan antara satu dengan yang lain menjadi lebih menonjol daripada perbedaan.
Maka rasa saling menghargai, menghormati, pengertian, dan kerja sama akan semakin kuat dibanding dengan rasa saling curiga, saling tidak percaya, saling berasumsi yang tidak tepat.
Lalu, rekonsiliasi dan kedamaian akan datang dari situ… Bukan kedamaian semu yang “ja-im” di depan orangnya, tetapi “backstabbing”… Tetapi benar-benar ada masyarakat yang dapat hidup berdampingan…. =)
Untuk itu, dibutuhkan hancurnya eksklusivisme ekstrim dna keegoisan diri tentunya; bukan soal diri saya, bukan soal kepentingan saya atau kelompok saya saja, tetapi juga orang lain… semuanya.
—————————–

Leave a Reply